Kisah Cundakarika

February 17th, 2008 by 17731344

Kisah Cundasukarika

 

 

Pada suatu dusun, tidak jauh dari Vihara Veluvana, hidup
seorang penjagal babi yang sangat kejam dan keras hati, bernama Cunda. Ia
adalah penjagal babi yang sudah berusia lebih dari lima puluh tahun; selama
hidupnya, dia belum pernah melakukan suatu perbuatan yang bermanfaat. Sebelum
dia meninggal, dia sakit parah dan mengalami penderitaan yang berat. Dia
mendengkur, berteriak-teriak, dan terus menggerakkan tangan dan lututnya untuk
merangkak seperti babi selama tujuh hari. Sebelum meninggal dunia, dia
mengalami penderitaan seperti kalau dia berada di neraka (niraya). Pada hari
ketujuh, penjagal babi itu meninggal dunia, dan dilahirkan kembali di Neraka
Avici (Avici Niraya). Beberapa bhikkhu yang dalam beberapa hari berturut-turut
mendengar teriakan-teriakan dan kegaduhan dari rumah Cunda, berpikir, pastilah
Cunda sedang sibuk membunuhi lebih banyak babi. Mereka berpendapat bahwa Cunda
adalah seorang yang sangat kejam dan keji. Yang tidak mempunyai cinta kasih dan
belas kasihan sedikitpun. Mendengar pergunjingan para bhikkhu tadi, Sang Buddha
berkata, “Para bhikkhu, Cunda tidak sedang membunuhi lebih banyak babi.
Perbuatan jahatnya yang lampau telah berbuah. Karena rasa sakit yang sangat,
akibat penyakit yang dideritanya, ia melakukan hal-hal yang tidak normal.
Sekarang ia telah meninggal dan terlahir di alam neraka. Oleh karena itu,
seseorang yang melakukan perbuatan jahat, akan selalu menderita akibat dari
perbuatan jahat yang dilakukannya; dia menderita dalam dunia ini, sama seperti pada
alam berikutnya. Hal itu diwejangkan oleh Sang Buddha dengan membabarkan syair
15 berikut ini: Di dunia ini ia bersedih hati. di dunia sana ia bersedih hati.
pelaku kejahatan akan bersedih hati, di kedua dunia itu. ia bersedih hati dan
meratap, karena melihat perbuatannya sendiri, yang tidak bersih.

Ajaran Sang Buddha

February 17th, 2008 by 17731344

Melenyapkan Kebencian

Oktober 29, 2007 oleh mirws

Y.A.Sariputta berkata, “Ada lima cara untuk melenyapkan kebencian
yang muncul. Apakah kelima cara itu?

Ambillah contoh seseorang yang perbuatannya tercela tetapi
ucapannya tidak. Andaikanlah seorang bhikkhu yang mengenakan jubah terbuat dari
kain kasar melihat selembar kain kasar tergeletak di jalan, ia akan
membentangkan lembaran kain tersebut dengan kedua kakinya dan mencoba untuk memanfaatkan
kain tersebut sebaik-baiknya, baru kemudian melanjutkan perjalanannya. Demikian
pula, terhadap seseorang yang perbuatannya tercela tapi ucapannya tidak, jangan
hiraukan perbuatannya. Sebagai gantinya, ingatlah ucapannya yang tidak tercela.

Dan terhadap seseorang yang ucapannya tercela tetapi perbuatannya
tidak, bagaimana kebencian itu disingkirkan? Andaikanlah seseorang, yang
tersiksa karena kepanasan, oleh panas yang berlebihan, lelah dan haus,
mendapati sebuah kolam yang dipenuhi tumbuhan air, lumut dan lumpur. Ia akan
memasukkan kedua tangannya ke dalam air, menyibakkan tumbuhan air yang ada,
mengambil air dengan kedua telapak tangannya, minum dan kemudian merasa segar.
Demikian pula, terhadap seseorang yang ucapannya tercela tetapi perbuatannya tidak,
janganlah hiraukan ucapannya. Sebagai gantinya, pikirkanlah perbuatannya yang
tidak tercela.

Dan bagaimana terhadap seseorang yang tercela baik ucapan maupun
perbuatannya, tetapi batinnya tenang dan bersih sepanjang waktu? Andaikanlah
seseorang, yang tersiksa karena kepanasan, oleh panas yang berlebihan, lelah
dan haus, mendapati genangan air pada jejak kaki kerbau di tanah. Ia mungkin
berpikir pada dirinya sendiri, ‘Ada genangan air pada jejak kaki kerbau di
tanah ini, tetapi jika aku minum dengan menggunakan kedua telapak tanganku
ataupun sebuah cangkir, lumpurnya akan teraduk dan air itu menjadi tidak
mungkin diminum. Bagaimana jika aku merangkak, menundukkan kepala dan minum
seperti seekor kerbau?’ Maka ia pun melakukan hal itu. Demikian pula, terhadap
seseorang yang tercela baik ucapan maupun perbuatannya tetapi batinnya tenang
dan bersih sepanjang waktu, jangan hiraukan ucapan dan perbuatannya. Ingatlah
hanya kebersihan dan ketenangan batinnya.

Dan bagaimana terhadap seseorang yang tercela baik ucapan maupun
perbuatannya dan tidak memiliki batin yang tenang dan bersih? Andaikanlah
seseorang yang sedang sakit dan sangat menderita berjalan di sepanjang jalan
yang jauh dari desa baik di depan maupun di belakangnya, tanpa persediaan bahan
makanan, obat-obatan atau pertolongan, ataupun petunjuk untuk menuju ke desa
terdekat. Jika ada orang lain yang melihatnya, orang lain itu akan merasa iba
dan berkata pada dirinya sendiri, ‘Orang yang malang ini harus mendapat
pertolongan atau ia akan mendapat celaka.’ Demikian pula, seseorang yang
tercela baik ucapan maupun perbuatannya dan tidak mempunyai batin yang bersih
dan tenang, adalah patut dikasihani, diberi rasa simpati, dan engkau seharusnya
berpikir, `Orang yang malang ini seharusnya menghentikan keburukan dan
mengembangkan kebajikan, atau setelah meninggal, ia akan bertumimbal lahir di
alam yang menderita.’

Dan terhadap seseorang yang ucapan dan perbuatannya tidak tercela
serta memiliki batin yang bersih dan tenang, bagaimana kebencian seharusnya disingkirkan?
Andaikanlah seseorang yang menderita karena kepanasan, oleh panas yang
berlebihan, lelah dan haus, mendapati sebuah kolam yang berisi air yang sejuk,
jernih, dan terasa manis, dengan tempat beristirahat yang menyenangkan dan
teduh di bawah naungan pohon-pohon. la akan terjun ke dalam kolam tersebut,
mandi, minum, keluar dari kolam dan berbaring di bawah keteduhan pohon-pohon
itu. Demikian pula, terhadap orang ini, pikirkanlah kebajikan dan batinnya yang
tenang dan bersih.”